Apakah yang kautangkap dari swara hujan, dari
Daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela?
Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dari ricik air yang turun di selokan?
Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan Hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.
“Tak ada. Kecuali bayang-bayangmu sendiri
yang di balik pintu memimpikan ketukan itu, memimpikan sapa
pinggir hujan, memimpikan bisik yang membersit dari titik
air menggelincir dari daun dekat jendela itu.
Atau memimpikan semacam suku kata yang akan mengantarmu tidur.”
Barangkali sudah terlalu sering ia mendengarnya, dan tak lagi mengenalnya.

Tinggalkan komentar