Aku bertengadah
Tak berdaya atas kebesaranmu
Air mataku membasahi kalbu
Aku menangis,merintih
Osa-dosa itu menghantuiku
Aku takut hari pembalasanmu
Bila engkau masih membukakan
Pintu ampunan Mu
Lebih sempurna ketimbang harus sehat berjalan wajar
Lebih indah untuk sekedar pendar cahaya bulan
Pada waktu di mana semua harus mendapat ultimatum untuk terus berjalan
Tanpa arti jarak yang telah tertempuh
Bila kau pergi sesaat setelah aku ada pada waktu
Untuk apa senyum penyambutannya
Bila tangisan tak bisa kau bendung pergi
Sesaat setelah semua di mulai, ini telah usai
Memperbaiki kesalahan ku

Tinggalkan komentar