Berdiri

Dengan menunggangi kemacetan, masa
Yang berarak-arakan, dengan bendera dan
Menyerukan nama Tuhan, semacam pelesir
Membawa fatwa, mengelilingi segala kemungkinan

Kita bisa tiba-tiba berada di mana saja

Juga di tali gantungan yang tadi menjelmma
Dari jatuhan hujan, atau menjadi seiris bahan
Pada lembar preparat, atau di pintu penjara
Yang lain, di sebelah kepala daerah yang baru saja
Dibawa ke Jakarta, setelah operasi tangkap tangan.

Seorang penyair berlatih, cara terbaik
Membacakan, “Hanya ada satu lawan: kata!”

Lalu ia pergi, katanya ia hendak mencari
Orang-orang yang dulu hilang dan dihilangkan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai