kita membelah sebatang pohon damar
bukan untuk meniru Nuh yang akan mengarungi lautan
kita ayunkan kapak paling besar hingga pengar
“inilah pintu ke dalam perut hutan!”
kita masuk ke sana. berdua saja
kudengar kau membaca doa-doa
entah berapa pohon lagi di depan kita
tandan-tandan buah merah darah
di dalam perut hutan beroma malam
kita berharap untuk kembali saja ke tubir mimpi
atau menjaadi dua bocah ingusan
dengan mainan dan semesta sendiri

Tinggalkan komentar