Cuping Telinga

Kau menyebutku pendatang. Tapi pikiranku telah lama di sini. Di
sebelahmu. Tenang dan setia. Seperti kesetiaan sekuntum kembang
teratai yang mekar di kolam. Dan kau meraba bayanganku. Yang
katamu melengkung. Dan sesekali memanjang sampai ke kaki
langit. Atau malah terus naik. Menjolok bintang.

Dan kau merentangkan saputangan. Ingin menangkap napasku.
Terus membungkusnya. Agar nanti dapat diletakkan di depan
meja. Sebagai bagian atas rasa hormat pada sebentang
persembahyangan. Persembahyangan pada sang dewi yang telah
menyerahkan keutuhan tubuhnya bagi ketenteraman air, tanah, dan
udara.

Dan lewat kerling matamu yang bergemeriap, kau membuka pintu
dan jendela. Agar udara keluar-masuk. Dan sepasang kupu-kupu
pun leluasa beterbangan. Sepasang kupu-kupu yang mengajari
siapa saja tentang arti bergerak. Juga arti, bahwa yang terpenting
dalam bergerak adalah kemurnian dari sekepal daging gaib.

Sekepal daging gaib yang ada di selipan dada. Yang menjadikan si
penempuh mesti membaca amsal yang bersusun. Amsal yang telah
mengubah hutan pring di bukit menjadi ketakternyanaan yang
lembut. “Ini secangkir teh untukmu. Sesaplah dalam-dalam.
Sesaplah dalam-dalam,” bisikmu di dekat cuping telingaku.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai