Setelah bahtera merapat, kabut memagut dari sisa gulita
Serupa pencuri cekatan yang merampas setiap kesempatan
Ombak reda bersama rasa waswas yang terseka
Sebab hendak berjumpa pipi ranum kekasih pujaan
Inilah tanah impian setelah almanak kembali diciptakan
Langit tercuci dari dosa purba. Camar mencoba kekuatan
sayapnya. Cakrawala mulai digaris dengan pena harapan
Angin memperkenalkan diri lewat hangat kecupan
Dermaga masih sunyi menunggu kelahiran matahari
Cahaya memecah punggung bukit yang membujur di timur
Menawarkan aroma hutan beserta kuntum-kuntum cendawan
Kericik air sungai seperti awal senandung pagi
Setelah kapal merapat – mungkin kandas oleh surut laut,
tiada lagi pelayaran dengan lelehan air mata dan rasa takut
Menghabiskan ribuan peta yang digulung perlahan
Mencoba melupakan perjanjian yang menyedihkan

Tinggalkan komentar