Hikayat Perang yang Dilihat

Perawakannya tidak tinggi, tidak pendek. Berjalan dengan tatapan
yang agak merunduk. Tapi di belakangnya, seakan sebentang
sungai mengikuti. Sebentang sungai yang kelak akan membuat
tafsir jadi bolak-balik. Antara kepercayaan dan ketakpercayaan.
“Ajaklah hamba melihat peperangan itu.”

Tapi apa peperangan itu memang dapat dilihatnya? Dan pada
minggu yang kedua, peperangan itu memang dapat dilihatnya. Saat
itu, segenap laskar yang mengajaknya kocar-kacir. Maka tak ada
yang dipilih, kecuali majulah dia. Maju dengan kesaktian yang
tersimpan. Melayang. Memapak. Menyodok.

Dan semua musuh dilibasnya. Diruntuhkannya. Para perawi, pun
segera menulis sebaris hikayat: Matanya elang. Tangannya ular.
Kakinya kelabang. Setiap yang mendekat, tak ada yang
menyentuhnya. Tapi, setiap yang disentuhnya, tak bisa menangkis.
Begitulah sang juru pati sejati.

Apa yang kau pinta, hai, penyelamat kemenangan panjiku?”
begitu kata sang paduka, ketika peperangan itu telah usai. Ketika
setiap orang bersorak di alun-alun yang berhias umbul-umbul. Dan
sambil menghormat, dia berbisik: “Berilah hamba palu pusaka
yang tersimpan di kotak yang terlalai.”

Sang paduka terhenyak. Ada sebaris getar di wajahnya. Getar aneh
yang tak terkira. Getar aneh yang oleh para perawi pun pernah
ditulis dalam sebaris hikayat: Jika sang paduka hanya menyimpan
palu pusaka, bagaimana mesti memperbaiki istana. Dan jika itu
yang terjadi, bagaimana pula memutuskan hujjah.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai