Aku merindukan matamu sebagaimana pucuk sadagori
Menanti sinar matahari. Pagi sekali aku berjalan ke barat
Tanpa alas kaki menyusuri pantai, sungai dan perbukitan
Berdiri di tengah huma dan melihat kesedihan disemaikan
Aku mengenangkan matamu sebagaimana bunga angsana
Rindu pada udara. Menjelang petang aku beranjak ke utara
Menghirup aroma kandang pada penghujung musim hujan
Terus berbelok ke timur menuruni undakan-undakan sawah
Kadang aku menghindari matamu sebagaimana kelelawar
Memilih kegelapan. Aku sembunyi di bawah rimbun janitri
Sambil menggelantung pada dahan-dahannya yang tinggi
Aku kembali ke pantai ketika malam hampir sempurna
Di kejauhan sebuah pulau karang menjelma titik cahaya
Lalu aku meyakini titik tersebut adalah bola matamu

Tinggalkan komentar