Kubaca Peta

Demikianlah, aku telah berjalan seratus tahun
Mataku buta oleh air mata yang setiap tetesnya menjadi
lilin. Tidak kujumpa harum tubuhmu di gelap rimba
Anyaman batang pohon menutupi jejakmu. Kabut
menyempurnakan sesatku: tempat semua panggilan
tidak mendapatkan jawaban

Perjalanan kita menjadi pelepah panjang silsilah
Tercurah darah melukis peta penuh nama-nama
Sampai suatu hari kukenali hela napasmu, seperti
engkau mengenali kasar kulit tanganku

“Mengapa kita menjadi orang usiran, Kekasih?”

Tidak ada atap selain awan-gemawan
Tidak diperlukan sebuah guci selain curah hujan
Kita menanam kayu dengan perasaan malu
Mendulang cahaya seraya menyeka duka

“Di mana kusimpan peta yang kelak
mempertahankan kita kembali?”

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai