Kue Keranjang

Ketika ke rumahmu, ada seekor codot yang menggantung di sela-
sela plafon. Ada tanaman sirih yang merayap di pilar. Dan ada
kover buku yang terpajang di dinding. Yang saat aku pandang,
tersenyum, dan berkata: “Kapan datang. Naik apa. Semoga
senantiasa sehat.” Aku terkesiap. Merasa ingatan jadi terbentang.
Dan rumahmu adalah titik bentangnya.

Lalu, kue keranjang itu kau sodorkan padaku: “Mau kan?” Tapi,
sebelum aku jawab, hujan turun. Suaranya berlarian di genting.
Seperti berlariannya sekian ratus ekor kuda di sabana. Sabana yang
tidak berwarna hijau. Tapi kuning. Kuning keemasan. Sabana milik
siapa saja. Yang percaya bahwa jalan yang jalan, bukanlah jalan
yang bisa disebut lewat kata.

Dan karena tak bisa disebut lewat kata, tentu tak ada yang mampu
menjeratnya. Seperti udara, begitulah adanya jalan yang jalan itu.
Hanya memberi tapi tak meminta. Termasuk memberi rute pada
para perantau. Yang membawa serta pertukangan, pengobatan, dan
keyakinan. Juga kesusastraan yang tak lagi mau sekadar dibuang
ke dasar telaga.

“Sudah, jangan banyak pikir. Ini kuenya,” katamu lagi. Ternyata,
telah kau potong kue keranjang itu jadi empat. Dan aku mengambil
sepotong. Ya, sambil memasukkan ke mulut, aku kembali teringat,
jika jalan yang jalan itulah, yang telah mempertemukan semuanya.
Dan menysusunnya dalam hitungan yang tak tertebak. Bisa maju,
mundur, atau malah berlipatan.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai