Pintu

Pada bangku. Warung kopi. Dan puisi tentang pelayaran setengah bumi.
Dan teriakan seseorang: “Ibu hilang,” detik pun tergeragap. Kenapa bisa
begitu? Apa sudah dicari? “Sudah, sudah dicari. Ke puskesmas, ke ladang,

Tetap tak ada. Ibu hilang.” Puisi tentang pelayaran setengah bumi ditutup.
Seekor ayam menceker-ceker tanah. “Coba ke pasar. Mungkin ke sana.”
Dan pusisi tentang pelayaran setengah bumi dimasukkan ke dalam laci.

Asap sate sapi membumbung. Dan pikiran jauh ke seseorang. Seseorang
ibu. Yang kini berjalan sendirian. Menyeberangi jembatan. Lurus terus
ke sebuah halte. “Mau kemana, Ibu?” tanya si tukang sapu. Tapi, ibu tak

Menjawab. Hanya matanya saja yang tak lepas ke arah batas jauh. “Mau
kemana, Ibu?” kembali tanya si tukang sapu. Kembali ibu tak menjawab.
Dan memang, setelah sekian waktu, setelah diributkan, ibu memang hilang.

Seperti goresan pasir, lenyap disapu ombak. Sesuap nasi yang tertelan,
pun seakan berempedu. Sampai suatu hari. Hari yang hampir melupakan ibu
yang hilang. Puisi tentang pelayaran setengah bumi kembali dibuka. Pada
bait dan baris kesekian terbaca gambaran tentang kota-kota yang berjauhan.
Kota-kota yang berlepasan. “Kadang aku ingat. Kadang aku lupa. Tapi ibu
tetap ibu. Apakah di kota itu, ataukah di kota ini,” begitu kata seseorang

Yang dulu berteriak. Seseorang yang kini setia mencangkung di sisi pintu.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai