Kuintai kendaraannya: seekor bintang. Masih
berjejak garis cahaya memanjang ke awal kelam
Sisa gemuruh memasuki celah pintu – memercik latu
Tak sabar kucari tanda itu:
Sepasang mata yang lama tak tidur
karena cinta membuat sibuk lubuk hatinya
Aku tahu, fajar belum sepenuhnya bangkit
Jubahnya masih melindungi bumi yang sakit
Tapi laung iqamat tak mungkin terlambat
meski dibebani kesumat
Seperti sedang memandang sang penjemput,
jiawaku bergetar. “Bolehkah aku minta waktu
sebentar? Bolehkah?
Dalam beku udara aku lolos dari pintu belakang
: Maut yang membentang

Tinggalkan komentar