Serbuk Arang

Aku ingin menyapamu. Terus membawamu pulang.
Meletakkan di lemari kaca. Dan memintamu untuk
menembang. Menembang tentang sepasang kekasih
yang berjanji setia. Sepasang kekasih yang punya jejak
berwarna teja. Jejak yang membekas ke mana saja keduanya
pergi. Dan ke mana saja keduanya bertempat. Apa di beranda.
Apa di loteng. Apa di bumbungan.


Tak ada yang peduli. Tapi, sayang, keinginanku cuma
keinginan. Sebab (Sebelum menyapamu), kau malah
pergi. Menjemput senyap. Tempat para ruh menunggu.
Sebelum masuk ke rahim. Masuk ke awal-urip. Yang
membisikkan keutamaan bagi hari-hari di almanak. Jadinya,
aku kehilanganmu.

Lalu, aku pun mencoba menggulung benang. Benang
putih yang panjang. Benang putih (yang kata kabar) milikmu
tersayang. Yang kerap kau timang di kasur
yang bertabur bedak. Bedak yang beterbangan setiap
ada yang menjatuh-jatuhkan tubuhnya di sana. Dengan bunyi
bug-bug-bug. Bunyi yang sesekali aku dengar
ketika subuh menepi. Dan ketika dari guliran embun terbesit
tukasan begini: “Sejak kecil dia menari. Setelah remaja
menembang. Tapi ketika dewasa, malah memikul cermin
lebar. Membidik titik kelabu. Memasang ribuan bendera di
tebing. Dan menggerus arang sampai jadi serbuk.” Kini,
saksikan, saksikan, ada yang melaburi
pipi dan dadaku dengan serbuk arang itu.

Laburan yang semula tipis-tipis. Tapi lama-lama
setebal tembok.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai