Suluk Sungai

Selalu tak ada cara mengingatmu, sebagaimana
selalu tak ada cara membunuh amarahku

– Sungai sedang membelah sunyi nyanyianku

Mendengar detas seribu gelagah pecah dalam udara bisu
Nyeri itu menetap di ceruk hati. Membuat sarang
dendam yang tak sepenuhnya kumengerti

Angin membuyarkan bunyi lonceng sepanjang
musim. Arus waktu mengirimku ke masa lalu
bagai gerobak yang didorong mundur pada
jalan menurun

– Sungai terus membelah sunyi nyanyianku

Aku tahu kau tidak menunggu di situ
untuk mengumpulkan setiap puing ngilu

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai