Yudas

Ia biji sesawi, jatuh di batu-batu
rindu mengecup mulut matahari.
Ia pukat, terbang dengan jerat perangkap
ke pelukan laut meski tak bisa menjaring
lengan sendiri. Ia benih gerimis jatuh di tanah subur,
tertulis di antara epitaf batukarang dan
saraf burung-burung. Ia ragi orang ibrani, koyak di dalam
roti dua sukat dan berkhamir kehilangan.


Ia lalang di antara gandum, kesementaraan yang tersesat
dalam belukar masa lalu. Ia mutiara yang berharga,
tertelan dalam mulutnya sendiri. Ia harta terpendam,
menggali diri dalam keping-keping perak.
Ia seorang penabur, alpa pada musim yang
menjatuhkan khianat di mana-mana. Ia pohon ara
yang tak berbuah, hanya kutuk tanpa pupuk dan sejuk
tangan Bapa. Ia satu dari 99 domba, yang pandai menghilangkan diri
tapi tak menemukan lapang hati sang gembala.

Berpilin seperti jubah romawi
Kau lupa mengurai tali
menyalakan lilin, lilin menggigil
pada lorong gelap
menggantung diri
di labirin ingatan ini.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai