Kemarin kuukir egoku di batu cadas
Menyeduh kopi disaat langit menangis
dan mengalirkan liuk genangan air membentuk bendungan
Sumpah serapahkan menanggalkan semua
Lunglai termakan tanah sebelum melewati sudut-sudut
Sisa-sisa debu beranjak digiring air
Helaan nafasku seakan tertimbun lumpur
Sepotong bayang bersijingkat memperkosa angan
ingin kulantangkan suara, namun pijak dahaga memelas
sekawanan kata rindu lalu-lalang melintas
Denyar nadi meruat tak karuan
ingin kusumbat laju malam
Hingga pagi tak menyapa
Tapi denting waktu tak bermain kompromi
Kurajut kembali sisa-sisa harap
Yang tersangkut pekatnya malam
Aku ingin menyunting bulan
Menyusup relung pusaran hati
Hingga bisa menyongsong pagi
Menyulam kembali sobekan hati
Menabur kasih sepanjang waktu

Tinggalkan komentar