Kategori: Tidak Dikategorikan
-
Penjara
Ada seorang yang sedang menuadigiring ke penjara. “Namaku kearifan,”katanya. Dia, seperti orang pergerakan,membusuk dengan luka, di Glodok, di sel-sel penjara,di rumah tahanan Bukit Duri,di kam interniran Garut dan Sukabumitapi jejak-jejak itu pun tak berjejak lagitertimpa cahaya pusat perbelanjaan,kafe, gerai La Sensa, gerai jam,dan toko pengulak Apple.
-
Tetesan
Tetesan hujan lebat itu menjadi tali(ni memang bukan sajak imajis)dengan dingin dan runcing duriterjeratlah musim-musim yang matitak sempat datang ke undangan pernikahansepasang anak muda dari bonus demografi Malaikat-malaikat membisulupa semua lagu yang hendak mereka nyanyikan Dan kabut lepas, dan tertutuplah permukaan tanah
-
Kotak Suara
Cinta tak terdengar di kotak suaraTak berjejak di balairung istanaTak dibicarakan di kantor ketua partai Mereka memakai jas dan baju dinasMenyembunyikan rencana-rencana besarPemindahan kekuasaan, pembagian wilayah kejahatan Dan rencana menemui wartawanDi luar pintu ruang pertemuanMenjawab pers dengan seringai manis(dengan kalimat lain untuk pernyataan:kami tahu bahwa kalianpura-pura tak tahu)
-
Say,angku
SayangkuBersabarlah,Jangan mengabaikan waktu yang tersisa,Jangan membuang air mata dan menjerat bathinmu dalam derita,Segeralah bangun pilar – pilar ketabahan dalam ruang hatimu..Warnai pilar itu dengan cahaya kesungguhan,Jika pilar itu kokoh, kuat dan bercahaya, maka itulah Iman mu, Sayangku,Jika setiap masalah sama dengan matematika,maka rumusnya adalah “ pasti “Pastikan waktu yang tersisa hanya untuk mencari yang terbaik,Pastikan…
-
Sudah dulu lagi
Sudah dulu lagi terjadi beginiJari tidak bakal teranjak dari petikan bedil Jangan tanya mengapa jari cari tempat di siniAku tidak tahu tanggal serta alasan lagi Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang penghabisanYang akan terima pusaka: kedamaian antara runtuhan menara Sudah dulu lagi, sudah dulu lagiJari tidak bakal teranjak dari petikan bedil
-
Puncak
Minggu pagi di sini. Kederasan ramai kota yang terbawatambah penjoal dalam diri – diputar atau memutar –terasa tertekan; kita berbaring bulat telanjangSehabis apa terucap di kelam tadi, kita habis kata sekarang.Berada 2000 m. jauh dari muka laut, silang siur pelabuhan,jadi terserah pada perbandingan dengancemara bersih hijau, kali yang bersih hijau Maka cintaku sayang, kucoba menjabat…
-
Derai-derai Cemara
Cemara menderai sampai jauhTerasa hari akan jadi malamAda beberapa dahan di tingkap merapuhDipukul angin yang terpendam Aku sekarang orangnya bisa tahanSudah berapa waktu bukan kanak lagiTapi dulu memang ada suatu bahanYang bukan dasar perhitungan kini Hidup hanya menunda kekalahanTambah terasing dari cinta sekolah rendahDan tahu, ada yang tetap tidak diucapkanSebelum pada akhirnya kita menyerah
-
Aku berada kembali
Aku berada kembali. Banyak yang asing:Air mengalir tukar warna, kapal-kapal, elang-elangSerta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain; Rasa laut telah berubah dan kupunya wajahJuga disinari matari lain. Hanya kelengangan tinggal tetap saja.Lebih lengang aku di kelak-kelok jalan;Lebih lengang pula ketika berada antaraYang mengharap dan yang melepas. Telinga kiri masih terpalingDitarik gelisah yang sebentar-sebentar seterang guruh.
-
Kepada peminta-minta
Baik, baik aku akan menghadap DiaMenyerahkan diri dan segala dosaTapi jangan tentang lagi akuNanti darahku jadi beku. Jangan lagi kau berceritaSudah tercacar semua di mukaNanah meleleh dari lukaSambil berjalan kau usap juga. Bersuara tiap kau melangkahMengerang tiap kau memandangMenetes dari suasana kau datangSembarang kau merebah. Mengganggu dalam mimpikuMenghempas aku di bumi kerasDi bibirku terasa pedasMengaum…
-
Tuhan…
Tiada terpikirkanTetesan air mataYang berlinangan di pipi ini Oh … Sang KsatriaIkut dan jagalahGedung yang telah bertahta emas iniDengan kesetiaan dan keabadianmu Aku akan selalu mengabadikan namamuDan jasa-jasamu di dalam sanubarikuKini tinggallah harum wangimuYang akan selalu tersaji indah di batinku
