Kategori: Tidak Dikategorikan
-
Senandika Kata
Di beranda rumah sore iniSenandika kata memperdengarkan kembaliImpresi diksi pada bait sajak bulan JuniDihapusnya delusi rasa dari lini masaBiar tak lagi beranjak leluasaMenerka tanya tanpa Awan hitam yg menyelimuti,Kini berubah menjadi Awan Biru Keindahandan menjadi Langit yg menakjubkan. Lukisan-Lukisan yg menghiasi Langit Pagi,menambah kedamaian hatidan membuat mata menjadi Kagum. Itulah Tuhan,Sang Pencipta abadi.Menciptakan segala rupa,dan…
-
Bait kala pandemi
Hai apa kabar?Insan yang masih sibuk bercumbu dengan rindu.Insan yang masih menaruh harapannya kepada semesta yang sedang tidak baik baik saja.Dan pahlawan dunia yang masih tegar berjuang Mungkin bumi sudah terlalu lelah, karena banyaknya manusia egois yang berulah. Mungkin bumi telah rentan akibat banyaknya kerusakan.Kau datang dengan perlahan membuat bumiku keresahan membuat masyarakat ketakutan lantas,…
-
Intuisi
Rintik rintik terhujat eksistensiDilamar guntur dan tercerca becekDengan merangkul segala kuasa dihujani kritikLewat tutur intuisi tasbih aku selalu berpasrahMenyerah di penghujung usangSeucap syahdu memeluk 7
-
Semayam Rembulan
Hai payoda di ujung sana;Engkau tempat anggasta adicandra;Cahya nya laksana kurantaka;Keindahannya adwitiya;Hingga dakara;Sarwendah;Laksana kama puraka;
-
Menanti
Kami masih disiniMenanti walau tak pastiBerharap keajaiban datang menghampiriUntuk hilang kan semua keraguan hatiTuhan..Kami mohon, redakanlah badai iniSirnakanlah segala kepiluan kamiDan hadirkan lah
-
Kapan Lagi
Kapan lagi?Kopi mulai diseduCangkir berbaris dan menguapAsap rokok yang mengelung-gelungSaling umpan makian mesraKapan lagi?Kau, aku, dudukRasanya sudah tidak pernahHanya rima memori di
-
Negeri Pertiwi
Negeriku negeri yang besarDisusu, ditimang sang ibu pertiwiNegeri berjuluk gemah ripah lohjinawiHingga tuai decak kagum mata dunia.Namun ibu pertiwi kini dirundung dukaKian banyak insan lupa
-
Lampaui
Resah tak beraturan seluruh perasaan, hilang logika berfikir untuk menyikapi Melawan setiap ribuan sudut pandang, berpegang hanya pada kacamata sendiri Ribuan pedang terhunus kepadaku dan ribuan kali aku mencabutnya Tidak ada rasa sakit
-
Pulang
Beberapa pergi tak mengenal pulang.Beberapa salah tak mengenal maaf.Beberapa belum tak mengenal sudah.Beberapa lara tak mengenal rela. Apa artinya pergi, jika engkau tak menjadi tempatku pulang? Percayalah, pada akhirnya Kukira kau rumah yang menetapKukira kau kain yang mendekapku halusKukira kau kaca yang akan selalu kutatapDan kukira kau itu kompas yang memanduku berjalan lurus Nyatanya kau…
-
Akhir
Seperti ombak yang menghantam karangSeperti api yang membakar hutanDunia terombang ambing Bagai lautan yang pasang Pasti semua akan hancur berantakanKuyakin semua orang kebingunganTakkan ada lagi kesempatanSemua
