-
Biru Bukit, Bukit Kelu
Adalah hujan dalam kabut yang unguTurun sepanjang gunung dan bukit biruKetika kota cahaya dan dimana bertemuAwan putih yang menghinggapi cemaraku. Adalah kemarau dalam sengangar berdebuTurun sepanjang gunung dan bukit keluKetika kota tak bicara dan terpakuGunung api dan hama di ladang-ladangku. Lereng-lereng senjaPernah menyinar merah kesumbaPadang ilalang dan bukit membatuTanah airku.
-
Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabahDari hujan bulan JuniDirahasiakannya rintik rindunyaKepada pohon berbunga itu Tak ada yang lebih bijakDari hujan bulan JuniDihapusnya jejak-jejak kakinyaYang ragu-ragu di jalan itu Tak ada yang lebih arifDari hujan bulan JuniDibiarkannya yang tak terucapkanDiserap akar pohon bunga itu
-
Kelambu dan Lampu Sentir
Lemari tua itu, masih ada di pojok ruangDulu waktu kecilAku senang sembunyi di belakangnya Ruangan itu masih menyimpan kenanganMeski tak ada lagi kelambu dan lampu sentirYang dulu selalu eyang pasangMenjelang maghrib Semua telah tiadaDitelan waktuTapi dalam kenangankuSemua segar membayangBagai baru usai kemarin Aku termangu di ruang bisuAnganku hadirAndai aku kembali kecil.
-
Ranjang Ibu
Ia gemetar naik ke ranjangsebab menginjak ranjang serasa menginjakrangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang.Dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit,serasa terdengar gemeretak tulangibunya yang sedang terbaring sakit.
-
Ibuku Dahulu
Ibuku dehulu marah padakudiam ia tiada berkataaku pun lalu merajuk pilutiada peduli apa terjadi. Matanya terus mengawas dakuwalaupun bibirnya tiada bergerakmukanya masam menahan sedanhatinya pedih kerana lakuku. Terus aku berkesal hatimenurutkan setan, mengkacau-balaujurang celaka terpandang di mukakusongsong juga – biar cedera. Bangkit ibu dipegangnya akudirangkumnya segera dikucupnya sertadahiku berapi pancaran nerakasejuk sentosa turun ke kalbu.…
-
Kepada Bunda
Terkenang di hati mengarang sari,Yang kupetik dengan berahiDalam kebun jantung hatiku,Buat perhiasan Ibunda-Ratu.
-
Musium Perjuangan
Susunan batu yang bulat bentuknyaberdiri kukuh menjaga senapan tuapeluru menggeletak di atas mejamenanti putusan pengunjungnya. Aku tahu sudah, di dalamnyatersimpan darah dan air mata kekasihAku tahu sudah, di bawahnyaterkubur kenangan dan impianAku tahu sudah, suatu kaliibu-ibu direnggut cintanyadan tak pernah kembali Bukalah tutupnyasenapan akan kembali berbunyimeneriakkan semboyanMerdeka atau Mati. Ingatlah, sesudah sebuah perangselalu pertempuran yang…
-
Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu
Apa guna punya ilmuKalau hanya untuk mengibuliApa gunanya banyak baca bukuKalau mulut kau bungkam meluluDi mana-mana moncong senjata Berdiri gagahKongkalikongDengan kaum cukongDi desa-desaRakyat dipaksa Menjual tanahTapi, tapi, tapi, tapiDengan harga murahApa guna banyak baca bukuKalau mulut kau bungkam melulu
-
Jadi
Tidak setiap derita Jadi luka Tidak setiap sepi Jadi duri Tidak setiap tanda Jadi makna Tidak setiap makna Jadi ragu Tidak setiap jawab Jadi sebab Tidak setiap jangan Jadi pegang Tidak setiap kabar Jadi tahu Tidak setiap luka Jadi kaca Memandang Kau Pada wajahku
-
Gumamku ya Allah
Angin dan langit dalam diriku,Gelap dan terang di alam raya,Arah dan kiblat di ruang dan waktu,Memesona rasa duga dan kira,Adalah bayangan rahasia kehadiran-Mu, ya Allah! Serambut atau berlaksa hastaEntah apa bedanya dalam penasaran pengertian.Musafir-musafir yang senantiasa mengembara.Umat manusia tak ada yang juara.Api rindu pada-Mu menyala di puncak yang sepi. Semua manusia sama tidak tahu dan…
