-
Mengundang Makan
Jadi bagaimana, nasi telah beku di atas bejanakata-kata telah terkebat bagai buhul di ujung kain kita masih akan bersiasat dengan lidah yang makin lamamakin terasa majal, dan lutut yang ngilu lagi padat-pedar? Jadi bagaimana, sendok-sendok telah jadi dingindan tikar telah kusut, gorden direnggut-renggut kita masih akan bersitatap dengan mata yang makin lamamakin penuh pasir, dan…
-
Kepak Alir ke Hilir
Menyelam ruku-ruku, asam kandis, jahe, kunyitkardamanggu, serai, segala bumbubertempuk, bersorak…berpadu dalam gelegak belangamu. Ikan-ikan merapat di situ, mata jala mengikat, telah kupakusetiap pintu air, dan gerak kepak ke hilirtelah kuselami setia[ lekukmutelah kucicipi palung hasratmu berenang aku di lubuk paling dangkal dan paling dalammumerentak aku di bukit paling mangkal dan paling curammu telah menegang kuncupmutelah…
-
Komuni
Altar yang rapuhMerayakan memoria. Di baris keempat depan siboriKunanti mukjizat ekaristi. Perjamuan bukan cuma roti,Tapi TubuhMu batu hidup, Merajam sarang-sarangPenyamun dalam tubuhku.
-
Yudas
Ia biji sesawi, jatuh di batu-baturindu mengecup mulut matahari.Ia pukat, terbang dengan jerat perangkapke pelukan laut meski tak bisa menjaringlengan sendiri. Ia benih gerimis jatuh di tanah subur,tertulis di antara epitaf batukarang dansaraf burung-burung. Ia ragi orang ibrani, koyak di dalamroti dua sukat dan berkhamir kehilangan. Ia lalang di antara gandum, kesementaraan yang tersesatdalam belukar…
-
Kurung
Puisi tentang kehijauan ditulis oleh penyair yang hijau.Berbicara tentang soal-soal yang memang begitu hijau. Sehijau daun-daun yang bergoyang dengan serempak.Yang kerap kita lihat di hutan-hutan. Hutan-hutan yang Dibelah sungai-sungai. Dan dikurung kabut-kabut tipis.
-
Kue Keranjang
Ketika ke rumahmu, ada seekor codot yang menggantung di sela-sela plafon. Ada tanaman sirih yang merayap di pilar. Dan adakover buku yang terpajang di dinding. Yang saat aku pandang,tersenyum, dan berkata: “Kapan datang. Naik apa. Semogasenantiasa sehat.” Aku terkesiap. Merasa ingatan jadi terbentang.Dan rumahmu adalah titik bentangnya. Lalu, kue keranjang itu kau sodorkan padaku: “Mau…
-
Serbuk Arang
Aku ingin menyapamu. Terus membawamu pulang.Meletakkan di lemari kaca. Dan memintamu untukmenembang. Menembang tentang sepasang kekasihyang berjanji setia. Sepasang kekasih yang punya jejakberwarna teja. Jejak yang membekas ke mana saja keduanyapergi. Dan ke mana saja keduanya bertempat. Apa di beranda.Apa di loteng. Apa di bumbungan. Tak ada yang peduli. Tapi, sayang, keinginanku cumakeinginan. Sebab (Sebelum…
-
Hikayat Perang yang Dilihat
Perawakannya tidak tinggi, tidak pendek. Berjalan dengan tatapanyang agak merunduk. Tapi di belakangnya, seakan sebentangsungai mengikuti. Sebentang sungai yang kelak akan membuattafsir jadi bolak-balik. Antara kepercayaan dan ketakpercayaan.“Ajaklah hamba melihat peperangan itu.” Tapi apa peperangan itu memang dapat dilihatnya? Dan padaminggu yang kedua, peperangan itu memang dapat dilihatnya. Saatitu, segenap laskar yang mengajaknya kocar-kacir. Maka…
-
Arah
Aku mencintai yang tak terjangkau. Mencintaidengan kerahasiaan yang begitu membara dantak lazim. Dan itu membuatku terbakar. Terbakardalam api. Siapa yang mampu menduga. Apa danbagaimana kira-kira diriku ini. Makhluk api yanggentayangan tanpa batas. Tanpa sapa. Dan tanpa Siapa pun yang bisa diajak berbiak dan membelah.Lihat, lihat, aku makhluk api pun masuk ke gedung.Naik ke lantai tiga.…
-
Pintu
Pada bangku. Warung kopi. Dan puisi tentang pelayaran setengah bumi.Dan teriakan seseorang: “Ibu hilang,” detik pun tergeragap. Kenapa bisabegitu? Apa sudah dicari? “Sudah, sudah dicari. Ke puskesmas, ke ladang, Tetap tak ada. Ibu hilang.” Puisi tentang pelayaran setengah bumi ditutup.Seekor ayam menceker-ceker tanah. “Coba ke pasar. Mungkin ke sana.”Dan pusisi tentang pelayaran setengah bumi dimasukkan…
