-
Cuping Telinga
Kau menyebutku pendatang. Tapi pikiranku telah lama di sini. Disebelahmu. Tenang dan setia. Seperti kesetiaan sekuntum kembangteratai yang mekar di kolam. Dan kau meraba bayanganku. Yangkatamu melengkung. Dan sesekali memanjang sampai ke kakilangit. Atau malah terus naik. Menjolok bintang. Dan kau merentangkan saputangan. Ingin menangkap napasku.Terus membungkusnya. Agar nanti dapat diletakkan di depanmeja. Sebagai bagian…
-
Pelabuhan Sungaiduku
Memasuki gerbang, penjaga bermata layu.deret mobil terhitung ganjil, bisingpenjual buah mengekor kedatanganpenumpang kapal yang akan pergi. Sore gerah seperti pikir yang tak habishabisnya bersemayam dalam kepala.kau mengajakku pulang. di sungaidukukapal-kapal menunggu.
-
Aku dan Waktu
Aku dan waktu selalu berkelit.Aku selalu mengasah pedang.Dan waktu menantang:“Bunuhlah diriku!” Waktu tak pernah berkhianat.Namun aku selalu kalahWaktu memegang pedangku“ini aku yang akan membunuhmu!” Aku dan waktu berpandang tajam.Saling menuntut tegar. ia menunjukBahwa aku telah mati di arahPutaran jam.
-
Menziarahi tengku kamariah
Syarat yang tuanku tetapkanakhirnya memang tidak tertunaikancuma bukan hamba yang menangistapi airmatalah yang mengucurkan hambamenguyupi kisah tak sudah-sudahdari johor dan bintan berpayah-payahdi siak pula tak boleh lengahmeski permaisuri jabatan dipapahpengorak langkah ke sekolah wilayah Maafkan hamba jika bertanyaadakah yang lebih sakitjika ayah sendiri tewas di tangan pasukan suamilalu dimusuhi kakak abang karena takhtajuga terusir dari…
-
Tanya
Seberapa jarak perlu untuk rinduSeberapa dekat rindu untuk menujumuSeberapa jauh menujumu untuk bertemuSeberapa lama bertemumu untuk cumbuKau tak akan tahuTak akan Tak akan kau tahuSeberapa rindu untuk menjarakSeberapa tuju untuk mendekatSeberapa temu untuk menjauhSeberapa cumbu untuk menemuTahu kau takTak tahu Tapi sudahlahTahu tak tahuTak tahu-tahu jugakah
-
Ke Pulau Rindu
Menuju pulau rinduSaya berharap alunan cahayaSebab seperti biasaDia menunggu sayaDengan kisah pantai ketika benderangMemaknainya sebagai cerita pendek Yang tak tersambar anginKemudian berkata:“sekarang musim anginPuting beliung acap kali datangDan pantai kita terus tergerus Tapi waktu menolaknya untuk terkikisSebab pelaut pun sadarTak ada kepergian selain pulang.” Menuju pulau rinduTak saya tentang sebarang cendera hatiPun oleh-oleh sekedar pelipur…
-
Haiku Penanda Usia
Musim kemarauRanting-ranting meranggasMenunggu hujan Di musim panasDaun-daun menguningTerbang melayang Telaga tenangSelembar daun jatuhDiam terapung Sajadah basahMemandang bingkai fotoTeringat ayah Pintu berderitKenangan lalu lalangMasa kecilku Tampias hujanJendela kayu basahMata menggenang Pagi merambatjejak embun di daunCintamu sejuk Di bingkai fotoKenangan masa kecilBermain bekel Terus berjalanMenyusuri setapakMung mampir minum Cuaca dinginTubuh menggigil hebatDi perapian Sehelai rambutRontok dari kepalaNikmat…
-
Bulan Separuh
Bulan separuh jatuh di dasar kolamMatamu yang bening memantulkan cahaya bohlamKau hanyut di laut malam : kita ingin tenggelam tapi enggan karam AduhaiBulan tinggal separuhSunyi ….ditinggal pergi segala rusuhHasrat hati ingin luahkan keluhApadaya, lidah tak mampu bermadah teguhBaiklah mengunci bibir, Agar yang keruh tak bertambah lusuh Bukanlah diam pertanda lumpuhDiam jua menyimpan kukuhLaksana pelita menjelma…
-
Menjadi Angin
Menjadi angin; aku berjalanDi permukaan danau. Membuat alunDari rambutku yang berjatuhan –Tanpa mengubah warna air. Ikan-ikanTenang menyimpan dan menjaga telurnya Langit biru. Cahaya tanpa ruang;Leluasan sekaligus kebisuan Ke balik air ada suara lain menyelamBerbisik ke lubuk paling kelam. MengubahSisik ikan-ikan menjadi jutaan lidah. Menggelepardi permukaan danau Hari gelap dan bekuUdara jadi sedingin belatiDanau dikelilingi seruan…
-
Kota Putih
Aku melihatmu di sebuah kotaYang menjadi putih. Ketika gelapBersalin lidah dengan terang. KetikaOrang-orang menemukan sisik ularDi bawah bantal, sajadah, dan altar Bagai lebah mereka berkerumun –Memasuki tubuhmu. Mengangkut kecemasanDan kebencian. Di padang lapang merekaMengerang dan mengasah pisau Kota seputih kafan. Kau berjalanMemanggul jenasah Habil, mengitariKota Suci, memandikannyaDengan percik air bunga padma Tubuh dan kakimu mengucur…
